Awal Untuk Berkesudahan

Aku rasa bukan hanya sotong yang mampu berkamuflase, manusia pun sama. Kita mahir menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang pecah di dalam kepala. Kadang kita terlihat sangat bahagia, seolah dunia baik-baik saja. Tapi di waktu lain, kita justru dirundung kesusahan yang begitu kuat bahkan nyaris menenggelamkan segalanya.


Dan aku tidak sedang membicarakan orang lain. Aku sedang membicarakan diriku sendiri.


Dulu, malam hari adalah waktu yang paling aku sukai. Karena saat itu dunia terasa tenang. Tidak ada suara tangisan anak kecil, tidak ada lalu-lalang kendaraan. Hanya sunyi. Sayangnya ketenangan itu sekarang berubah menjadi sesuatu yang justru membuatku takut. Malam seperti memaksa semua perasaan yang tidak ingin kuhadapi untuk muncul dalam satu waktu. Terlalu telak, terlalu jujur, terlalu menyakitkan.


Ikhlas itu bohong. Tapi setidaknya saat itu aku percaya begitu. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, aku hanya tahu bahwa aku takut. Takut pada rasa sepi yang semakin kuat energinya. Takut pada kenangan yang terus memberontak di kepala. Hanya memikirkannya saja rasanya aku sudah tidak kuat lagi.


Nyatanya, di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan selalu tetap tinggal. Bahkan orang yang paling aku sayangi pun punya waktunya sendiri untuk pergi. Semua orang akan pergi ketika perannya selesai. Dan hal itu adalah kenyataan yang harus kutelan, meski pahit dan tidak pernah benar-benar hilang.



Memaksakan sesuatu sama saja seperti penyakit. Kita tahu tubuh kita saat itu sedang tidak baik-baik saja, tetapi otak tetap memaksakan ego. Sampai akhirnya tubuh itu sendiri tetap tumbang.

Hidup memang mempertemukan kita dengan banyak manusia, dengan isi kepala dan persepsi yang beragam. Kita adalah makhluk sosial, dan entah disana kita mau atau tidak, campur tangan orang lain akan selalu kita perlukan dalam hidup.


Dan ada masanya kita disana juga harus belajar melepaskan. Terkesan egois, tidak apa-apa. Selama itu kamu butuhkan, selama logikanya masih masuk akal. 


Dari kata “melepaskan” aku jadi ingat sesuatu. Aku pernah berlaku sebegitu tulusnya terhadap seseorang. Aku hanya melihat hal indah dalam setiap kekurangannya, kebaikan dalam keburukannya. Bahkan saat dunia menegaskan bahwa dia bukan seseorang yang pantas untuk aku pertahankan, aku masih saja tidak peduli.


Aku pernah bertanya dalam hati, kenapa perempuan yang tulus justru sering terluka? Padahal yang mereka minta tidak rumit.


Temanku mungkin sudah muak mendengar keluh kesahku. Aku sering meminta tolong padanya, berharap ada sesuatu yang bisa membantuku tenang disana. Hari-hariku terasa seperti tantangan, tapi bukan tantangan yang membuatku maju.


Kamu mungkin juga pernah seperti aku, mencoba terlihat baik-baik saja, padahal kamu berbohong pada dunia dan dirimu sendiri. Tapi percayalah, menjadi jujur tidak seburuk itu. Akui saja, jika kamu memang sedang merasa buruk.


Jangan tahan anak singa yang sudah ingin keluar dari kandang. Mungkin memang sudah waktunya ia melanjutkan perjalanan. Meninggalkan sesuatu bukan berarti kalah, kadang itu satu-satunya cara untuk kita bisa kembali tetap waras. Dan kamu pun harus mampu melepaskan agar bisa menyambut hal baru yang nanti akan datang.


Setiap hal yang terjadi selalu punya makna. Mungkin tugasmu memang sudah selesai. Atau mungkin kamu hanyalah murid yang bertemu seorang guru, dan ketika kurikulumnya selesai, kamu harus naik tingkat.


Anggap saja ini bagian dari perjalananmu untuk menuju seseorang yang tepat. Maafkan mereka. Maafkan dia. Dan juga maafkan dirimu sendiri.


Tidak seharusnya kamu meminum racun saat kamu kehausan. Jadi lepaskan apa pun yang sudah tidak mampu tubuhmu, hatimu, dan jiwamu tanggung lagi bebannya. Sudah cukup sampai di sini perjalanannya. Kamu butuh istirahat. Selesaikan semuanya dengan tenang dan tanpa melukai siapa pun.





Post a Comment